Laboratorium Biokimia Nutrisi, Fakultas Peternakan UGM menyelenggarakan kuliah online BINCANG BIOKIMIA seri 1 dengan topik The Prospect of Microbes in Feed Fermentation pada 27 Agustus 2020. Pembicara pada acara tersebut yakni Prof. Dr. Zaenal Bachruddin (Laboratorium Biokimia Nutrisi, Fakultas Peternakan UGM), Prof. Dr. Yimin Chai (Japan International Research Center for Agriculture Science), dan Dr. Xuekai Wang (China Agriculture University). Kegiatan tersebut juga berkerjama Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), dan Indonesia Livestock Alliance (ILA).
Ibu rumah tangga berperan penting dalam keluarga, terutama berkaitan dengan urusan pangan. Seorang ibu memiliki andil besar dalam menentukan bahan pangan yang akan dikonsumsi oleh anggota keluarga. Berdasarkan latar belakang tersebut, melalui progam CSR (Corporate social responsibility) PT. Widodo Makmur Unggas bekerjasama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Fakultas Peternakan UGM melakukan program pemberdayaan masyarakat dengan budidaya ayam bahagia di Paguyuban Ibu-Ibu Dasawisma Dewi Sari, Dusun Buyutan, Desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul.
Fakultas Peternakan (Fapet) UGM mendampingi santri Pondok Pesantren Is Aswaja Lintang Songo, Piyungan, Bantul, membudidayakan ayam bahagia, yaitu konsep budidaya ayam petelur yang mengedepankan kesejahteraan hewan (animal welfare). Kegiatan pendampingan dilaksanakan oleh Laboratorium Biokimia Nutrisi Fapet UGM sejak Agustus 2020 dan meliputi pembuatan pakan secara mandiri, manajemen budidaya ayam petelur, dan penjualan.
“Peternakan ayam petelur tentunya harus dapat dikelola dengan memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan. Lebih dari itu, peternak perlu memperhatikan lingkungan. Pengelolaan yang baik dari sisi pakan dan limbah dapat mengurangi cemaran lingkungan. Selain itu, peternakan juga dapat dijalankan secara efisien sehingga meningkatkan keuntungan peternak,” ujar Prof. Dr. Ir. Lies Mira Yusiati, SU., IPU., ASEAN. Eng, ketika berkunjung ke PP Is Aswaja Lintang, Kamis (6/8).
Di tahun 2014, tepatnya akhir semester 4 adalah waktu saat aku bergabung menjadi bagian dari Biokimia. Aku teringat ketika awal menjadi asisten, dimana perbekalan ilmu dan kepercayaan diri masih sangat kurang. Pada hari pertama masuk, aku diberikan tantangan untuk mencoba membimbing praktikum. Rasanya seperti diminta menyeberang sungai yang sangat dalam sementara renang pun belum paham.
Di sisi ini, dosen dan asisten senior bak penolong dari semua kesulitan itu, karena mereka selalu ada untuk membimbingku sehingga tanggungjawab ini semakin lama menjadi semakin terasa ringan. Lebih dari itu, aku sangat terkesan terhadap apa yang selalu ditekankan disetiap proses pembelajaran, yaitu pemahaman prinsip. Para dosen sering menyampaikan “pahami biokimia bukan dari rumah lebah atau nama senyawa yang sering muncul di buku, akan tetapi pahami prinsip yang ada di balik itu, sehingga tidak akan sulit bagimu untuk memahami perkembangan ilmu.”
Laboratorium Biokimia Nutrisi adalah pintu besar yang dapat saya masuki, dan ketika saya berada di dalamnya saya ditawarkan lebih banyak lagi pintu-pintu lain untuk saya masuki sehingga saya bisa lebih berkembang dan lebih berguna dalam kehidupan akademik mapun non akademik saya.
Peternakan sudah menjadi bagian yang melekat dengan kehidupan saya selama kurang lebih 3 tahun belakangan. Perjalanan saya dalam memahami bahwa dunia peternakan adalah salah satu sektor yang membutuhkan sokongan kuat dalam pengalaman di ilmu pengetahuan, sudah dimulai dari semester pertama saya berada di fakultas ini. Dikala awal berkuliah saya menyadari bahwa kesadaran masyarakat akan memenuhi gizi harian masih terbilang kurang. Kemudian saya mencoba menjadi relawan untuk beberapa acara kampus untuk mengedukasi masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi harian terutama gizi dari protein hewani, salah satu contohnya adalah peringatan Hari Susu Nasional, dimana saya mencoba mengedukasi anak-anak di beberapa Sekolah Dasar untuk memahami bahwa tumbuh kembang mereka sangat dipengaruhi oleh gizi harian. Ketika bertemu dengan anak-anak tersebut saya memikirkan betapa baiknya apabila saya dapat mengeksplorasi dunia peternakan lebih banyak lagi dan membagikan ilmu yang saya miliki ke banyak orang.
Salah satu alumni Fakultas Peternakan UGM yang pernah menjadi asisten di Laboratorium Biokimia Nutrisi adalah Sujiyanto. Suji (sapaan akrab) merupakan mahasiswa Fapet angkatan 2012. Selain aktif menjadi asisten, Suji juga banyak menorehkan prestasi, baik dalam dan luar negeri. Suji pernah dua kali mengikuti program ke Jepang. Pertama pada tahun 2014 sebagai delegasi program SUIJI-Service Learning di Kagawa University, yakni pertukaran pelajar Indonesia untuk belajar tentang Food Safety on Local Community Food Production. Kesempatan kedua ke Jepang, Suji mengikuti program Junior Year Program in English (JYPE) di Tohoku University pada tahun 2015-2016 (Fall and Spring Semester).
Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menyelenggarakan pelatihan kajian molekuler bakteri asam laktat dan aplikasinya dengan tema “Kajian Molekuler Terhadap Bakteri Asam Laktat Untuk Meningkatkan Kualitas Pakan dan Produktivitas Ternak” pada Rabu—Kamis, 21—22 November 2018 di Fapet UGM.
“Bakteri asam laktat sangat penting manfaatnya untuk pakan ternak dan telah digunakan untuk meningkatkan kualitas bahan pakan. Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama antara Fapet UGM dan institusi para peserta pelatihan. Peserta pelatihan kali ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya dari Ternate, Kupang, Jambi, dan Palembang,” ujar ketua panitia pelatihan, Prof. Dr. Ir. Lies Mira Yusiati, SU., IPU ketika menyampaikan sambutan pada pelatihan, Rabu (21/11) di Ruang Sidang Besar Fapet UGM.
Gas metan merupakan salah satu penyebab pemanasan global (global warming). Sektor peternakan disebut menjadi salah satu produsen gas metan yang cukup tinggi, terutama ternak ruminansia, seperti sapi, kambing, dan domba. Sementara itu, produksi gas metan yang terlalu tinggi juga berdampak pada penurunan produktivitas ternak sehingga menyebabkan kerugian peternak.
Pelaksanaan manajemen peternakan yang kurang baik semakin berdampak buruk terhadap kondisi tersebut. Hampir sembilan puluh persen usaha peternak dijalankan oleh dengan sistem tradisional yang belum sadar terhadap isu pemanasan global maupun metan. Hal itu disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan serapan teknologi yang rendah menyebabkan peternakan belum dikelola secara ramah lingkungan.
Fakultas Peternakan UGM mengembangkan suplemen pakan ramah lingkungan yang mampu menurunkan produksi gas metan yang dihasilkan ternak ruminansia, seperti sapi, kambing, dan domba.
Pengembang suplemen pakan ramah lingkungan, Prof. Dr. Ir. Lies Mira Yusiaiti, SU. IPU, mengatakan bahwa gas metan menjadi salah satu penyebab pemanasan global yang mengakibatkan perubahan iklim, kekeringan, dan kebakaran hutan. Produksi gas metan yang terlalu tinggi juga berdampak pada penurunan produktivitas ternak.
Oleh sebab itu, ia mengembangkan sebuah teknologi tepat guna yang dapat mengatasi persoalan tersebut. Melalui suplemen pakan ramah lingkungan yang dinamai PRO-NIN BLOCK tidak hanya mampu menurunkan produksi gas metan pada ternak, tetapi dapat meningkatkan produktivitas pada ternak ruminansia.